Jumat, 06 Maret 2009
IKLAN COCA-COLA
Seorang salesman Coca-Cola baru saja kembali dari tugasnya di Cina. Dengan wajah yang sangat kecewa ia berhadapan dengan bosnya. Si Bos bertanya, "Bagaimana kamu bisa gagal melakukan transaksi di Cina? Coba ceritakan." "Saat tiba di Cina saya begitu yakin bisa menjual produk kita..." kata si salesman. "Cuma, ada satu masalah, saya tidak mengerti bahasa Cina, jadi saya memutuskan untuk promosi melalui poster bergambar. Poster pertama gambarnya seorang pria yang sedang sekarat dan kehausan ditengah perjalanannya menaiki Tembok Cina. Poster selanjutnya bergambar pria tersebut kemudian meminum Coca-Cola. Dan poster terakhir bergambar pria tersebut akhirnya bangkit kembali dengan kondisi yang segar bugar. Kemudian 3 poster tersebut saya tempel di seluruh penjuru Cina." "Lho bukannya itu ide yang brilian? Tapi kenapa kamu masih gagal dalam menjual?" tanya si Bos. Si salesman menjawab, "Saya tidak tahu kalo orang Cina membaca dari kanan ke kiri."
CINTAKU
Cintaku...
Dimana ronamu kini
Mengapa kau terdiam membisu?
Tiada lagi celotehmu yang membuat ku tersenyum
Tak ku hirup lagi aroma marahmu
Yang melambungkan kegelisahanku
Cintaku...
Mengapa kau meninggalkan aku
Dikala ku rindu dekap hangatmu
Ketika asa mulai ku rengkuh
Kau berpaling dan menjauh
Cintaku...
Kini aku dalam buaian sunyi
Diantara celoteh ceria di sekitarku
Tersenyum menikmati setiap goresan yang ada
Mencoba melangkah mencari binarmu
Cintaku...
Hangatkanlah sekeping hati ini
Dengan kobaran asmaramu
Agar cahaya yang mulai meredup ini
Kembali berbinar oleh balutan asa
Dimana ronamu kini
Mengapa kau terdiam membisu?
Tiada lagi celotehmu yang membuat ku tersenyum
Tak ku hirup lagi aroma marahmu
Yang melambungkan kegelisahanku
Cintaku...
Mengapa kau meninggalkan aku
Dikala ku rindu dekap hangatmu
Ketika asa mulai ku rengkuh
Kau berpaling dan menjauh
Cintaku...
Kini aku dalam buaian sunyi
Diantara celoteh ceria di sekitarku
Tersenyum menikmati setiap goresan yang ada
Mencoba melangkah mencari binarmu
Cintaku...
Hangatkanlah sekeping hati ini
Dengan kobaran asmaramu
Agar cahaya yang mulai meredup ini
Kembali berbinar oleh balutan asa
PUTRI MALAM
Putri malam perlahan melangkah
Menyusur lamban menjemput
Pangeran senja yang bertengger elok di ufuk barat
Membawa terbang ke alam gelap yang kian pekat
Mengajak bermanja diantara kerlip bintang
Bergerak indah mengikuti irama
Yang didendangkan serangga malam
Meliuk elok di bawah temaramnya sang bulan
Sang putri dan Pangeran terus berkelana
Menjelajahi negeri awan
Terus melangkah menyusuri lorong waktu
Hingga fajar menjemput Putri malam
Dan membawanya pergi
Namun sang putri telah berjanji
Akan datang kembali
Menjemput sang pangeran
Dan kembali berkelana
Disepanjang malam yang ada.
Menyusur lamban menjemput
Pangeran senja yang bertengger elok di ufuk barat
Membawa terbang ke alam gelap yang kian pekat
Mengajak bermanja diantara kerlip bintang
Bergerak indah mengikuti irama
Yang didendangkan serangga malam
Meliuk elok di bawah temaramnya sang bulan
Sang putri dan Pangeran terus berkelana
Menjelajahi negeri awan
Terus melangkah menyusuri lorong waktu
Hingga fajar menjemput Putri malam
Dan membawanya pergi
Namun sang putri telah berjanji
Akan datang kembali
Menjemput sang pangeran
Dan kembali berkelana
Disepanjang malam yang ada.
Ruang UGD
Anda pasti sudah tahu, apa itu ruang UGD. Sebuah ruangan untuk memperjuangkan nyawa seseorang, dimana orang itu sendiri mungkin, kurang menyadari bahwa orang lain yang menunggunya selalu berdebar. Saya pernah menyaksikan sebuah adegan di ruang UGD pada sebuah sinetron. Seorang gadis yang sedang menderita sebuah penyakit mematikan sedang dibawa menuju ruang UGD. Ayah sang gadis tampak sangat sedih dan tegang sekali. Lalu sang ayah berkata pada dokter supaya dokter menyembuhkan anaknya. "Tolong dok, sembuhkan anak saya. Berapapun biayanya saya akan membayarnya," ujar sang ayah. "Iya, saya akan berusaha pak. Tapi, Tuhan lebih berkuasa, berdo'alah." Jawab dokter sambil tersenyum.
Saat itulah saya menyadari, betapa berharganya sebuah nyawa. Sampai-sampai orang berani membayar berapapun. Namun, apakah kita menyadari hal itu di saat kita sedang sehat. Apakah orang juga menyadarinya dikala orang itu sedang berada di puncak kejayaannya. Apalagi seseorang yang merasa memiliki uang dan kekuasaan. Kadang seseorang menganggap bahwa uang dapat mengatur segalanya, termasuk membeli sebuah atau banyak nyawa. Padahal, disaat detik2 menghadapi maut, apa yang bisa membelinya. Atau apa yang bisa mencegahnya? Harta sebanyak apapun tidak berharga. Kedudukan dan kekuasaan setinggi apapun tak dapat mencegahnya. Dan ilmu pendidikan, teknologi yang secanggih dan semutahir apapun, tak dapat menyelamatkan nyawa dari maut. Jika Tuhan punya kehendak, tak satupun berguna.
Maka dari itu saudaraku, ingatlah akan apa yang anda jalani. Setinggi apapun kekuasaanmu, sepintar apapun otakmu, sebanyak apapun hartamu, satu hal, jangan sombong. Karena saat Tuhan hendak menghentikan nafas anda dan anda tidak mengingini, apapun tak dapat membeli nyawa anda. Apapun yang anda miliki saat ini, itu hanya sementara. Mengucap syukurlah dan tetap rendah hati. Karena keberhasilan yang anda miliki, tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
Mengingat hal ini, saya sedih jika melihat seseorang yang menganggap uang punya kuasa. Saya sedih saat seseorang tak peduli pada apapun dan siapapun. Padahal, jika orang itu berada di ruang UGD, tak ada lagi daya. Tak ada kuasa. Tak ada kepintaran yang berguna. Tak ada uang yang membeli sebungkus nyawa yang sudah di kemas Tuhan. Dan kita pun tidak tahu, kapan kita akan menghadapi ruang UGD.
Saat itulah saya menyadari, betapa berharganya sebuah nyawa. Sampai-sampai orang berani membayar berapapun. Namun, apakah kita menyadari hal itu di saat kita sedang sehat. Apakah orang juga menyadarinya dikala orang itu sedang berada di puncak kejayaannya. Apalagi seseorang yang merasa memiliki uang dan kekuasaan. Kadang seseorang menganggap bahwa uang dapat mengatur segalanya, termasuk membeli sebuah atau banyak nyawa. Padahal, disaat detik2 menghadapi maut, apa yang bisa membelinya. Atau apa yang bisa mencegahnya? Harta sebanyak apapun tidak berharga. Kedudukan dan kekuasaan setinggi apapun tak dapat mencegahnya. Dan ilmu pendidikan, teknologi yang secanggih dan semutahir apapun, tak dapat menyelamatkan nyawa dari maut. Jika Tuhan punya kehendak, tak satupun berguna.
Maka dari itu saudaraku, ingatlah akan apa yang anda jalani. Setinggi apapun kekuasaanmu, sepintar apapun otakmu, sebanyak apapun hartamu, satu hal, jangan sombong. Karena saat Tuhan hendak menghentikan nafas anda dan anda tidak mengingini, apapun tak dapat membeli nyawa anda. Apapun yang anda miliki saat ini, itu hanya sementara. Mengucap syukurlah dan tetap rendah hati. Karena keberhasilan yang anda miliki, tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
Mengingat hal ini, saya sedih jika melihat seseorang yang menganggap uang punya kuasa. Saya sedih saat seseorang tak peduli pada apapun dan siapapun. Padahal, jika orang itu berada di ruang UGD, tak ada lagi daya. Tak ada kuasa. Tak ada kepintaran yang berguna. Tak ada uang yang membeli sebungkus nyawa yang sudah di kemas Tuhan. Dan kita pun tidak tahu, kapan kita akan menghadapi ruang UGD.
Langganan:
Komentar (Atom)