Jumat, 06 Maret 2009

Ruang UGD

Anda pasti sudah tahu, apa itu ruang UGD. Sebuah ruangan untuk memperjuangkan nyawa seseorang, dimana orang itu sendiri mungkin, kurang menyadari bahwa orang lain yang menunggunya selalu berdebar. Saya pernah menyaksikan sebuah adegan di ruang UGD pada sebuah sinetron. Seorang gadis yang sedang menderita sebuah penyakit mematikan sedang dibawa menuju ruang UGD. Ayah sang gadis tampak sangat sedih dan tegang sekali. Lalu sang ayah berkata pada dokter supaya dokter menyembuhkan anaknya. "Tolong dok, sembuhkan anak saya. Berapapun biayanya saya akan membayarnya," ujar sang ayah. "Iya, saya akan berusaha pak. Tapi, Tuhan lebih berkuasa, berdo'alah." Jawab dokter sambil tersenyum.
Saat itulah saya menyadari, betapa berharganya sebuah nyawa. Sampai-sampai orang berani membayar berapapun. Namun, apakah kita menyadari hal itu di saat kita sedang sehat. Apakah orang juga menyadarinya dikala orang itu sedang berada di puncak kejayaannya. Apalagi seseorang yang merasa memiliki uang dan kekuasaan. Kadang seseorang menganggap bahwa uang dapat mengatur segalanya, termasuk membeli sebuah atau banyak nyawa. Padahal, disaat detik2 menghadapi maut, apa yang bisa membelinya. Atau apa yang bisa mencegahnya? Harta sebanyak apapun tidak berharga. Kedudukan dan kekuasaan setinggi apapun tak dapat mencegahnya. Dan ilmu pendidikan, teknologi yang secanggih dan semutahir apapun, tak dapat menyelamatkan nyawa dari maut. Jika Tuhan punya kehendak, tak satupun berguna.
Maka dari itu saudaraku, ingatlah akan apa yang anda jalani. Setinggi apapun kekuasaanmu, sepintar apapun otakmu, sebanyak apapun hartamu, satu hal, jangan sombong. Karena saat Tuhan hendak menghentikan nafas anda dan anda tidak mengingini, apapun tak dapat membeli nyawa anda. Apapun yang anda miliki saat ini, itu hanya sementara. Mengucap syukurlah dan tetap rendah hati. Karena keberhasilan yang anda miliki, tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
Mengingat hal ini, saya sedih jika melihat seseorang yang menganggap uang punya kuasa. Saya sedih saat seseorang tak peduli pada apapun dan siapapun. Padahal, jika orang itu berada di ruang UGD, tak ada lagi daya. Tak ada kuasa. Tak ada kepintaran yang berguna. Tak ada uang yang membeli sebungkus nyawa yang sudah di kemas Tuhan. Dan kita pun tidak tahu, kapan kita akan menghadapi ruang UGD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar